{"id":8325,"date":"2024-11-14T15:06:20","date_gmt":"2024-11-14T08:06:20","guid":{"rendered":"https:\/\/skolla.development-sandbox.site\/mobilitas-sosial-pengertian-contoh-dan-faktor-yang-memengaruhi\/"},"modified":"2025-01-23T17:20:40","modified_gmt":"2025-01-23T10:20:40","slug":"mobilitas-sosial-pengertian-contoh-dan-faktor-yang-memengaruhi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/skolla.online\/blog\/mobilitas-sosial\/","title":{"rendered":"Mobilitas Sosial: Pengertian, Contoh, dan Faktor yang Memengaruhi"},"content":{"rendered":"<p>Skollamate, kenapa ya sering banget kita lihat ada orang yang pindah tempat tinggal ke daerah lain, orang naik jabatan karena berprestasi, ataupun orang turun jabatan atau dipecat? \ud83e\udd14 Ternyata, fenomena-fenomena yang kita lihat itu ada dalam kajian Sosiologi bernama mobilitas sosial.<\/p>\n<p>Mobilitas sosial adalah fenomena perpindahan strata sosial yang dialami oleh individu atau kelompok dari atas ke bawah, atau sebaliknya.<\/p>\n<p>Lantas, bagaimana pengertian mobilitas sosial menurut para ahli, serta apa saja bentuk, contoh, dan faktor yang memengaruhi adanya mobilitas sosial? Simak ulasan lengkapnya di artikel ini, ya!<\/p>\n<h2>Pengertian Mobilitas Sosial<\/h2>\n<p>Definisi mobilitas sosial dalam disiplin ilmu Sosiologi cukup beragam, lho. Banyak ahli yang memiliki perspektifnya sendiri ketika memandang fenomena sosial ini.<\/p>\n<p><strong>Pitirim A. Sorokin (1927)<\/strong><\/p>\n<p>Dalam bukunya, \u201cSocial and Cultural Mobility,&#8221; Sorokin menjelaskan mobilitas sosial sebagai perpindahan ke atas atau ke bawah dalam hierarki sosial. Sifat mobilitas sosial ini bisa berwujud horizontal dan vertikal.<\/p>\n<p><strong>Peter Blau dan Otis Dudley Duncan (1967)<\/strong><\/p>\n<p>Melalui riset mereka dalam &#8220;The American Occupational Structure,&#8221; Blau dan Duncan menyumbang pemikiran bahwa dalam mobilitas sosial, penting untuk menyoroti struktur sosial di masyarakat. Sebab, aspek tersebutlah yang membuka atau menghambat terjadinya mobilitas sosial.<\/p>\n<p><strong>Anthony Giddens (2009)<\/strong><\/p>\n<p>Apa yang dimaksud dengan mobilitas sosial menurut Giddens adalah suatu perubahan posisi individu atau kelompok dalam tatanan sosial. Dari sudut pandangnya, mobilitas sosial merupakan fenomena yang penting untuk memahami dinamika masyarakat di era modern.<\/p>\n<p>Meskipun ahli Sosiolog memiliki pendapat yang berbeda, pada dasarnya mobilitas adalah perubahan atau perpindahan status seseorang dalam sebuah masyarakat.<\/p>\n<h2>Bentuk dan Contoh Mobilitas Sosial<\/h2>\n<p>Mobilitas sosial bentuknya macam-macam. Menurut Pitirim Alexandrovich Sorokin, bentuk mobilitas sosial terbagi menjadi dua, yaitu mobilitas sosial vertikal dan horizontal. Kita juga akan melihat bentuk mobilitas sosial lainnya, yaitu mobilitas sosial antargenerasi, intragenerasi, dan geografis\/lateral.<\/p>\n<p><strong>1. Mobilitas Sosial Vertikal<\/strong><\/p>\n<p>Bentuk mobilitas sosial vertikal diklasifikasikan lagi ke dalam 2 bentuk yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Mobilitas Vertikal Naik <em>(Social Climbing)<\/em>:<\/strong> Perpindahan ke status sosial yang lebih tinggi. Contohnya adalah seorang anak lulusan SMA yang berhasil lulus S-1, selanjutnya bekerja sebagai staf, lalu diangkat menjadi manajer di perusahaan besar.<\/li>\n<li><strong>Mobilitas Vertikal Turun <em>(Social Sinking)<\/em>:<\/strong> Perpindahan ke status sosial yang lebih rendah. Contohnya adalah ketika seorang polisi yang dipecat karena melakukan tindakan yang melanggar hukum.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>2. Mobilitas Sosial Horizontal<\/strong><\/p>\n<p>Mobilitas horizontal adalah perpindahan posisi individu atau kelompok dalam status sosial yang masih sederajat (nggak naik atau turun).<\/p>\n<p>Misalnya, Pak Bondan sebagai kepala sekolah SMA Melati Harum, dipindahtugaskan menjadi kepala sekolah SMA Mawar Berduri. Hal tersebut terjadi tanpa mengubah tingkatan sosial Pak Bondan.<\/p>\n<p><strong>3. Mobilitas Sosial Antargenerasi<\/strong><\/p>\n<p>Mobilitas antargenerasi ditandai dengan adanya perubahan status sosial yang terjadi dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam keluarga. Contohnya, tukang becak yang berhasil menyekolahkan anaknya sampai S-3, kemudian anak tersebut sukses menjadi dosen di sebuah universitas. Dengan kata lain, sang anak telah mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan status sosial keluarganya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_34482\" aria-describedby=\"caption-attachment-34482\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34482 size-full\" src=\"https:\/\/skolla.online\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/raeni-anak-tukang-becak-dfdf.jpg\" alt=\"Contoh Mobilitas Sosial, yaitu Raeni, Anak Tukang Becak Peraih Gelar Doktor di Inggris\" width=\"700\" height=\"393\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34482\" class=\"wp-caption-text\">Raeni, Anak Tukang Becak Peraih Gelar Doktor di Inggris | Sumber: Bonepos<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>4. Mobilitas Sosial Intragenerasi<\/strong><\/p>\n<p>Mobilitas intragenerasi adalah perubahan status sosial yang terjadi dalam kehidupan seorang individu. Misalnya, Bambang yang lulusan SMK awalnya menjadi buruh pabrik kasaran di Korea Selatan. Setelah 2 tahun, ia kemudian balik kampung dan membuat usaha cilok hingga sukses besar.<\/p>\n<p><strong>5. Mobilitas Sosial Geografis\/Lateral<\/strong><\/p>\n<p>Mobilitas geografis\/lateral merupakan perubahan status sosial yang terjadi karena perpindahan individu atau kelompok dari suatu daerah ke daerah lainnya. Contohnya, keluarga Budi yang tinggal di kota pada saat Idulfitri pergi mudik ke kampung halamannya di desa.<\/p>\n<h2>Faktor Pendorong dan Penghambat Mobilitas Sosial<\/h2>\n<p>Setelah mengetahui bentuk dan contoh mobilitas sosial, kita juga perlu memahami faktor apa saja sih, yang menyebabkan adanya mobilitas sosial.<\/p>\n<p>Perlu dicatat, faktor tersebut terbagi ke dalam dua jenis, yaitu faktor pendorong dan penghambat terjadinya mobilitas sosial.<\/p>\n<p><strong>1. Faktor Pendorong<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Status sosial<\/li>\n<li>Kondisi ekonomi<\/li>\n<li>Situasi politik<\/li>\n<li>Pertambahan penduduk<\/li>\n<li>Keinginan melihat daerah lain<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>2. Faktor Penghambat<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Diskriminasi Ras dan Agama<\/li>\n<li>Diskriminasi Kelas Sosial<\/li>\n<li>Pengaruh Sosialisasi yang kuat<\/li>\n<li>Kemiskinan<\/li>\n<li>Perbedaan Jenis Kelamin<\/li>\n<li>Perbedaan Kepentingan<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Dampak Mobilitas Sosial<\/h2>\n<p>Berhubung mobilitas sosial nggak selalu bersifat naik, maka di samping dampak positif, juga terdapat dampak negatif jika yang terjadi adalah sebaliknya. Nah, berikut adalah penjelasannya.<\/p>\n<p><strong>Dampak Positif<\/strong><\/p>\n<p>Beberapa dampak baik dari adanya mobilitas sosial antara lain yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Mendorong seseorang untuk maju<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Seseorang yang berhasil naik ke kelas sosial yang lebih tinggi akan termotivasi atau terdorong untuk lebih berprestasi lagi.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Mempercepat perubahan sosial<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Perubahan sosial merupakan perubahan struktur sosial yang meliputi lembaga \u2013 lembaga tempat individu menjadi bagiannya.<\/p>\n<p><strong>Dampak Negatif<\/strong><\/p>\n<p>Selain dampak positif, di bawah ini adalah akibat buruk dari mobilitas sosial:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Konflik sosial<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Konflik sebagai akibat dari gejala mobilitas sosial ditandai dengan adanya benturan nilai dan kepentingan.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Keretakan hubungan dalam kelompok primer<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Seseorang apabila mengalami kenaikan status, dia akan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang ada di kelompok yang baru dan hal itu biasanya bertentangan dengan kelompok primer.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Munculnya <em>post power syndrome<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p><em>Post power syndrome<\/em> merupakan sebuah gejala psikologis yang terjadi setelah seseorang berhenti atau keluar dari jabatan atau kekuasaan mereka.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Adanya Ketegangan Peran<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Ketegangan peran terjadi ketika seseorang individu belum siap untuk menempati posisi yang baru.<\/p>\n<figure id=\"attachment_34483\" aria-describedby=\"caption-attachment-34483\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-34483 size-full\" src=\"https:\/\/skolla.online\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/50795.jpg\" alt=\"Seorang Pekerja Merasa Gagal dalam Pekerjaannya Menunjukkan Dampak Negatif Mobilitas Sosial \" width=\"1000\" height=\"667\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34483\" class=\"wp-caption-text\">Seorang Pekerja Merasa Gagal dalam Pekerjaannya Menunjukkan Dampak Negatif Mobilitas Sosial | Sumber: Freepik<\/figcaption><\/figure>\n<p>Nah, itu dia pembahasan terkait pengertian mobilitas sosial menurut para ahli, termasuk juga bentuk, contoh, faktor yang mempengaruhi, serta dampaknya. Ingin belajar tentang materi mobilitas sosial lebih lanjut? Yuk, belajar bareng di aplikasi <a href=\"https:\/\/app.skolla.online\/?utm_source=blog&amp;utm_medium=article&amp;utm_campaign=mapel\">Skolla<\/a>, hanya dengan sekali langganan, banyak materi mata pelajaran Sosiologi dan lainnya yang bisa kamu dapatkan!<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p>Sorokin, P. A. (1927). <em>Social and Cultural Mobility<\/em>. New York: The Free Press.<br \/>\nGiddens, A. (2009). <em>Sociology<\/em>. Cambridge: Polity Press.<br \/>\nBlau, P. M., &amp; Duncan, O. D. (1967). <em>The American Occupational Structure<\/em>. New York: Wiley.<\/p>\n<p><!-- notionvc: 603f5c6e-56f5-45a5-895b-e139e96d87e5 --><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Skollamate, kenapa ya sering banget kita lihat ada orang yang pindah tempat tinggal ke daerah lain, orang naik jabatan karena berprestasi, ataupun orang turun jabatan atau dipecat? \ud83e\udd14 Ternyata, fenomena-fenomena yang kita lihat itu ada dalam kajian Sosiologi bernama mobilitas sosial. Mobilitas sosial adalah fenomena perpindahan strata sosial yang dialami oleh individu atau kelompok dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8326,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_angie_page":false,"om_disable_all_campaigns":false,"inline_featured_image":false,"page_builder":"","footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-8325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-mata-pelajaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts\/8325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/comments?post=8325"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts\/8325\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/media\/8326"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/media?parent=8325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/categories?post=8325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/tags?post=8325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}