{"id":8418,"date":"2023-09-01T08:03:02","date_gmt":"2023-09-01T01:03:02","guid":{"rendered":"https:\/\/skolla.development-sandbox.site\/lagi-capek-belajar-bisa-jadi-kamu-kena-academic-burnout\/"},"modified":"2025-01-09T10:24:26","modified_gmt":"2025-01-09T03:24:26","slug":"lagi-capek-belajar-bisa-jadi-kamu-kena-academic-burnout","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/skolla.online\/blog\/academic-burnout\/","title":{"rendered":"Lagi Capek Belajar? Bisa Jadi Kamu Kena &#8220;Academic Burnout&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skollamate, apakah kamu pernah merasa capek, jenuh, atau stres ketika belajar? Kalau pernah, bisa jadi saat itu kamu sedang mengalami <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">academic burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Waduh, itu apa ya?<\/span><\/p>\n<h2><b>Istilah \u201c<em>Academic Burnout<\/em>\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burnout <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pertama kali dikemukakan oleh psikolog Herbert Freudenberger pada tahun 1974. Dalam penelitiannya, beliau menjelaskan bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burnout <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah kondisi kelelahan akibat tuntutan yang berlebih di tempat kerja. Seiring berjalannya waktu, istilah tersebut juga diterapkan pada penelitian di bidang pendidikan. Ternyata, pelajar juga bisa merasakan rasa lelah yang mirip dengan pekerja. Dari sinilah akhirnya muncul istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">academic burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Academic burnout <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah suatu keadaan ketika kamu merasakan kelelahan emosional dan fisik yang dipicu oleh studi yang berkepanjangan. Ciri atau tanda <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">terbagi menjadi tiga hal, yaitu <em>academic fatigue<\/em>, <em>academic apathy<\/em>, dan <em>academic inefficiency<\/em>.<\/span><\/p>\n<h3><strong><i>1. Academic Fatigue<\/i><\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Academic fatigue<\/em> merupakan tanda kelelahan akibat tuntutan dan tanggung jawab akademik. Ciri ini berupa kelelahan fisik dan psikis, seperti merasa pusing, sulit berkonsentrasi, stres, dan mudah marah sebagai bentuk frustasi.<\/span><\/p>\n<h3><strong><i>2. Academic Apathy<\/i><\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Academic apathy <\/em>merupakan tanda kelelahan yang ditandai dengan munculnya rasa pesimis dan berkurangnya minat pada tugas-tugas sekolah, berusaha menghindari hal-hal yang berhubungan dengan sekolah, dan tidak bersemangat mengikuti kelas atau mengerjakan tugas sekolah.<\/span><\/p>\n<h3><strong><i>3. Academic Inefficiency<\/i><\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Academic inefficiency<\/em> merupakan tanda kelelahan akibat perkembangan diri yang buruk di bidang akademik dan pendidikan, merasa pesimis dengan kemampuan diri, serta merasa bosan atau tidak tertarik dengan pelajaran yang sebelumnya diminati.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perbedaan <\/b><b><i>Academic Burnout<\/i><\/b><b> dengan Stres Belajar<\/b><\/h2>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Academic burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berbeda dengan perasaan stres biasa dan bukan pula sekedar kelelahan karena belajar semalaman. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Academic burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> muncul karena akumulasi dari rasa lelah dengan beban akademik dalam waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Meskipun demikian, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">academic burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak termasuk gangguan mental.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tips Jika Terkena <\/b><b><i>Academic Burnout<\/i><\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, jika kamu sudah merasakan ciri-ciri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, atau ingin melakukan pencegahan sebelum munculnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kamu bisa melakukan beberapa hal berikut.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Sisihkan waktu untuk istirahat<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal dari pagi sampai sore belajar, malamnya bersantai atau melakukan hobi. Kalau lagi sibuk-sibuknya, manfaatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">weekend <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">khusus untuk istirahat, jangan memikirkan hal-hal akademik setidaknya selama sehari.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Atur pola hidup sehat<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makan dan minum dengan teratur, tidur yang cukup, dan sekali-kali melakukan olahraga. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah dalam mengatur rasa stres. Tubuh juga akan lebih siap ketika harus menghadapi jadwal yang padat.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Bentuk hubungan yang baik dengan teman dan guru<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan adanya teman dekat di sekolah, kamu jadi punya teman curhat ketika lagi capek. Begitu pun dengan guru. Kalau kamu dekat dengan guru, kamu jadi lebih mudah untuk mengkomunikasikan masalah akademik, seperti tugas yang terlalu banyak atau jadwal yang terlalu padat.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Jalan-jalan dan berkunjung ke tempat baru<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini akan membantu pikiranmu menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fresh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Akan lebih menyegarkan lagi jika kamu berjalan-jalan di alam, seperti kebun, pantai, atau gunung.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <span style=\"color: #3366ff;\"><a class=\"row-title\" style=\"color: #3366ff;\" href=\"http:\/\/skolla.online\/blog\/mindfulness-solusi-meredakan-stres\/\" aria-label=\"\u201cMindfulness: Solusi Meredakan Stres\u201d (Edit)\">Mindfulness: Solusi Meredakan Stres<\/a><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belajar memang penting, tapi istirahat juga tidak kalah penting. Kalau capek belajar, jangan dipaksa. Istirahatlah! Belajar dengan kondisi tertekan malah membuat kamu tidak bisa fokus ke materi. Tapi kalau rasa capek dan stres sudah hilang, segera kembali belajar, jangan kebablasan. Lakukan keduanya dengan seimbang. Belajar secukupnya, istirahat juga secukupnya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Skollamate, apakah kamu pernah merasa capek, jenuh, atau stres ketika belajar? Kalau pernah, bisa jadi saat itu kamu sedang mengalami academic burnout. Waduh, itu apa ya? Istilah \u201cAcademic Burnout\u201d Istilah burnout pertama kali dikemukakan oleh psikolog Herbert Freudenberger pada tahun 1974. Dalam penelitiannya, beliau menjelaskan bahwa burnout adalah kondisi kelelahan akibat tuntutan yang berlebih di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8419,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-8418","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tips-insight"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts\/8418","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/comments?post=8418"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts\/8418\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/media\/8419"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/media?parent=8418"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/categories?post=8418"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/tags?post=8418"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}