{"id":8543,"date":"2023-11-07T06:46:24","date_gmt":"2023-11-06T23:46:24","guid":{"rendered":"https:\/\/skolla.development-sandbox.site\/apa-itu-beban-kelompok-ini-arti-dan-ciri-cirinya\/"},"modified":"2025-01-09T16:29:02","modified_gmt":"2025-01-09T09:29:02","slug":"apa-itu-beban-kelompok-ini-arti-dan-ciri-cirinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/skolla.online\/blog\/apa-itu-beban-kelompok\/","title":{"rendered":"Apa itu \u201cBeban Kelompok\u201d? Ini Arti dan Ciri-cirinya!"},"content":{"rendered":"<p>Terkadang guru memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh beberapa siswa. Oleh sebab itu, siswa perlu membentuk kelompok. Tapi, ada saja <em>deh<\/em> kelakuan anggota kelompok yang tidak menjalankan tugas dengan baik. Orang seperti ini pun sering disebut \u2018beban kelompok\u2019. Nah, sebenarnya apa arti dan bagaimana ciri-cirinya? Yuk, simak sampai habis biar kamu nggak jadi salah satunya!<\/p>\n<h2>Arti \u201cBeban Kelompok\u201d<\/h2>\n<p>Beban kelompok merupakan istilah bagi orang yang kurang atau tidak mau berkontribusi sama sekali dalam kelompoknya. Sehingga ketika mengerjakan tugas, tugas bagiannya harus dibantu oleh orang lain dalam satu kelompoknya.<\/p>\n<p>Perilaku semacam ini ternyata memiliki istilah dalam ilmu psikologi, yakni <em>social loafing<\/em>. <em><a href=\"https:\/\/semanticscholar.org\/paper\/dbfb3c9153d3aa75d98460e83fa180bc9650d6fd\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Social loafing<\/a><\/em> merupakan perilaku individu dalam sebuah kelompok yang mengurangi usaha atau kontribusinya ketika bekerja dalam kelompok daripada ketika bekerja sendirian.<\/p>\n<p>Penyebab <em>social loafing<\/em> bermacam-macam, di antaranya kurangnya motivasi dan rasa tanggung jawab, pengurangan identifikasi individu, kurangnya keterampilan sosial, ketidakjelasan peran, hingga kurangnya pengawasan guru. Perilaku beban kelompok atau <em>social loafing<\/em> ini tentu merugikan anggota lainnya yang benar-benar mengerjakan tugas dengan baik. Tentu kamu akan merasa iri jika melihat temanmu yang tidak berkontribusi mendapatkan nilai yang sama, kan?<\/p>\n<h2>Ciri-Ciri Beban Kelompok<\/h2>\n<p>Istilah yang cukup populer dibicarakan di media sosial dalam beberapa tahun terakhir ini tentu memiliki ciri khusus yang mencolok. Berikut ciri-cirinya supaya kamu bisa menjauhi perilaku merugikan ini.<\/p>\n<p><strong>1. Menjadi \u201c<em>invisible<\/em>\u201d di dunia nyata dan dunia maya<\/strong><\/p>\n<p>Orang yang menjadi beban kelompok biasanya akan tampak <em>slow response<\/em> di dalam grup dunia maya. Selain itu, biasanya mereka akan berdiam diri dan menjadi <em>silent reader<\/em> jika ada teman yang bertanya atau memulai diskusi di dalam grup. Nggak hanya itu, di dunia nyata, mereka adalah orang yang paling susah dicari dan susah dikabari.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4620 size-medium\" src=\"https:\/\/skolla.online\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Meme-Beban-Kelompok-1-287x300.png\" alt=\"gambar berisi percakapan tentang beban kelompok\" width=\"287\" height=\"300\" \/><\/p>\n<p><strong>2. Mengabaikan tugas yang menjadi bagiannya<\/strong><\/p>\n<p>Si beban kelompok sudah dipastikan nggak mau mengerjakan bagian yang dibagikan kepadanya. Kalaupun dikerjakan, pasti asal-asalan dan mepet <em>deadline<\/em>. Parahnya, mereka akan mengandalkan orang lain agar mengerjakan tugas mereka. Mereka juga hanya mau memilih satu atau dua tugas yang ringan, seperti mem-<em>print<\/em> tugas, membuat <em>slide<\/em> PPT, menjadi operator, atau sekadar membawa laptop saat presentasi.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4619 size-medium\" src=\"https:\/\/skolla.online\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Meme-Beban-Kelompok-2-300x225.png\" alt=\"gambar berisi meme tentang beban kelompok\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/p>\n<p><strong>3. Tidak menyumbang ide apa pun<\/strong><\/p>\n<p>Saat diskusi berlangsung, orang yang menjadi beban kelompok biasanya akan diam dan suka mengalihkan perhatiannya. Saat ditanya tentang ide, mereka tidak berusaha mencari tahu. Bahkan, mereka hanya akan mengobrol <em>ngalor-ngidul,<\/em> membuat distraksi, bahkan diam dan hanya mengandalkan ide temannya.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4618 size-medium\" src=\"https:\/\/skolla.online\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Meme-Beban-Kelompok-3-300x235.png\" alt=\"gambar berisi meme brokoli santai dulu gak sih\" width=\"300\" height=\"235\" \/><\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <span style=\"color: #3366ff;\"><a style=\"color: #3366ff;\" href=\"http:\/\/skolla.online\/blog\/tips-menghindari-beban-kelompok\">Tips Menghindari Beban Kelompok<\/a><\/span><\/strong><\/p>\n<p>Jika sudah begini, orang yang menjadi beban kelompok akan terasa sangat menyebalkan karena mempengaruhi produktivitas tim. Nggak jarang, kehadiran mereka mempengaruhi <em>mood<\/em> dan kinerja teman lainnya, lho.<\/p>\n<p>Kabar buruknya, orang seperti ini akan kamu temukan di mana-mana. Nggak hanya di sekolah, tetapi juga di tingkat universitas bahkan dunia kerja. Oleh karena itu, fenomena ini sebetulnya sulit dihindari. Namun yang terpenting, mulailah dari diri sendiri agar kamu nggak terjebak dalam perilaku merugikan ini!<\/p>\n<p><!-- notionvc: 36ca33b5-2244-4502-9a5d-8b4645b4d5de --><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terkadang guru memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh beberapa siswa. Oleh sebab itu, siswa perlu membentuk kelompok. Tapi, ada saja deh kelakuan anggota kelompok yang tidak menjalankan tugas dengan baik. Orang seperti ini pun sering disebut \u2018beban kelompok\u2019. Nah, sebenarnya apa arti dan bagaimana ciri-cirinya? Yuk, simak sampai habis biar kamu nggak jadi salah satunya! [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8544,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_angie_page":false,"om_disable_all_campaigns":false,"inline_featured_image":false,"page_builder":"","footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-8543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tips-insight"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts\/8543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/comments?post=8543"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/posts\/8543\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/media\/8544"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/media?parent=8543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/categories?post=8543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/skolla.online\/skolla-wpapi\/wp\/v2\/tags?post=8543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}